Halaman

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

PERGILAH DENGAN TENANG ZEN...!!

Cerpen ini merupakan true story saat acara Reunian Ikasmantri,85 di Painan (Part II).

Rangkaian kata" indah ,sarat makna dan sangat menggugah  dari pengarangnya yang juga salah satu alumni kami saat menyentuh...
Ijin copas & share ya Nani maniezzz...
Foto" diambil dari sang fotografer Ikasmantri85 ' Ji Boy dalam 3 edisi full..ijin minta ya JiBoy..
19 Maret 2014 pukul 0:50
Sebuah Catatan Kenangan
By: Rieska Praditya Ernaningtyas

Aku diliputi keraguan hingga waktu terakhir keberangkatan diputuskan. Keinginan untuk pergi dan tidak, selalu bagai sisi mata uang yang butuh pemastian kiri atau kanan, depan atau belakang, atas atau kah bawah.
Pergi atau tidak…?
Bila aku memutuskan untuk pergi, itu pun tetap tak pasti. Di lipatan hati terkecil, selalu ada pergumulan resah yang tak kupahami. Akhirnya kukesampingkan tanggungjawab di kantor dengan ikut bersama laju mobil yang kemudian membawaku pergi menjemput kenangan yang sudah dua puluh enam tahun kutinggalkan.
Mentari pagi rata menyinari sisi jalanan perbukitan hijau yang terjal menanjak dan menurun. Di sebelah kananku sepanjang mata memandang biru laut membentang luas, di atasnya kapal-kapal besar dan perahu kecil nelayan ikut memberi warna alam, sehingga semuanya sempurna menjadi keindahan yang membuat takjub, Allah sungguh Maha Karya.




Rindang pohon besar dengan akar yang saling mengikatkan buhul dan kokoh menjembatani aliran sungai deras yang mengalir di antara bebatuan di bawahnya, menjadi saksi tangan kami yang kembali berjabatan.
 Tak satu pun wajah yang kukenal, semua ukuran tubuh telah melebar. Dua puluh enam tahun ternyata membuat mata jadi tidak bisa lagi mengirimkan peta ke pikiran, untuk memunculkan sebuah nama buat disebut hingga rindu bersambut. Ragu-ragu aku menyebutkan nama.
“Riska.” Kataku sambil menerima uluran tangan lelaki berkumis dengan senyumnya yang merekah.
“Anton.” Suara itupun terasa asing di telinga, hingga sama sekali tak memunculkan sosok masa lalunya di benakku. Seorang wanita berbaju Krem dengan celana jeans, tubuhnya tak begitu gemuk mengulurkan tangan ke arah wanita lain yang berdiri menyamping di depanku.
“Mira.” Riang suaranya.
“Wati.” Sahut yang lain.
“Bimo.” Suara seorang lelaki di sekitarku menyebutkan namanya. Gaung tawa dan teriakan tanda gembira membahana di keramaian rekan-rekan masa laluku.
“Riska…! Penyanyi kita yang suaranya sangat merdu, ya?” Seruan diiringi gelak tawa datang dari lelaki bertubuh tinggi besar, kumisnya tebal dan jenggotnya keriting, ia menyeruak dari keramaian menjabat tanganku Чªπğ jadi kecil dalam genggamanya. Semua mata menatap ke arah lelaki tambun dengan penampilannya yang heboh.

Sedetik hening,
Hanya sedetik, setelah itu pecahlah tawa, teriakan penuh rasa antusias bergema. Waktu perlahan-lahan mengembalikan ingatan kami, dari senyum yang khas dari tatapan mata yang spesial, lengan sontak terkembang saling merangkul dan jabatan itu kuulangi kembali sekedar meyakinkan diri sendiri, bahwa itu memang teman-teman masa lalu.
Kata mereka aku tak banyak berubah, aku masih sama seperti dulu walau lebih gemuk, wajahku masih mudah dikenali. Sebaliknya bagiku mereka sangat berubah, begitu juga dengan sosok yang hanya berdiri saja di pojok, tak berkata dan tak tersenyum. Waktu kujabat tangannya sulit kutebak apa isi hatinya.
“Zen…! Zen kan…?”
Kujabat dan kuguncang tangannya, tapi lelaki di depanku tak bergeming, ia hanya memandang dengan ekspresi yang sulit disimpulkan maknanya. Aku menyimpan rasa tak mengerti, lalu dengan heran bercampur kecewa beranjak meninggalkannya untuk bergabung kembali dengan teman-teman Чªπğ lain.
Bagiku Zen bukan hanya sekedar sahabat dua puluh enam tahun yang lalu saja. Aku mengenalnya dari kecil. Kami tumbuh dan besar bersama-sama. Walaupun dikenal berwatak pendiam, untukku Zen tetap mempunyai cerita yang selalu bisa dibaginya. Tapi hari ini tak ada tutur kata, hanya tatapan mata, itu pun begitu datar bagai tak pernah ada aku di memori kehidupannya.

Kami tidak berlama-lama menikmati keindahan objek wisata Jembatan Akar. Setelah puas mengabadikan keindahan alam daerah pesisir itu, iring-iringan mobilpun kembali bergerak, menuju rumah salah satu rekanku Чªπğ dijadikan tempat berkumpul dan beristirahat. Masih banyak tempat yang akan kami kunjungi hingga sore menjelang, dan sebelum berangkat Erdi sang tuan rumahpun sudah menyiapkan hidangan makan siang di halaman belakang kediamannya yang luas.



Sebagai orang nomor dua di daerah itu, Rumah dinas yang ditempati Erdi lebih dari cukup menampung jumlah tamu yang hadir.
Suasana pun masih heboh dengan berbagai cerita masa lalu dan masa kini. Semua cerita tetap saja menarik buat di kisahkan kembali. Ketika aku asyik berbincang dengan beberapa rekan sekelasku dulu, Zen dari mejanya menyapa.
“Mana suaminya…?”. Pertanyaan tak beralamat itu tetap kumengerti sebagai pertanyaan yang ditujukan buatku. Aku berpaling kepadanya, sekilas kulihat ada senyum di wajah Zen, dan pandangan matanya juga seperti sudah mengenali aku kembali.
“Mana istrinya..?” Balasku dengan mulut yang juga dipenuhi senyum. Ketika itulah kulihat zen tertawa, tawa Чªπğ dulu sangat kukenal, walaupun wajahnya banyak berubah.
Dia memang Zen,
Bagiku Zen sekarang adalah sosok yang bukan hanya menjadi semakin diam, wajahnya juga terlihat muram dengan mata yang suram. Padahal dari yang kudengar hidupnya sukses sekarang. Zen kini adalah seorang pejabat di sebuah instansi. Ia menjadi kepala salah satu Kantor Pemerintahan di kota Bengkulu. Selesai menyantap makan siang dan melaksanakan ibadah sholat zuhur, perjalanan berlanjut kembali menuju tempat rekreasi yang lainnya.
Pulau Penyu.
Senda gurau kembali pecah ruah, ketika semua Ŏ®ªńG saling berebutan mencari posisi untuk foto bersama sesaat sebelum menaiki speedboat yang sudah menunggu di dermaga. Saat itu memang menjadi saat yang istimewa. siapa pun kami di kotanya masing-masing. Pejabat kah, pengusaha kah, pendakwah kah,wanita karier kah, ibu rumah tangga kah, tidak satupun Чªπğ peduli, semuanya kembali menjadi sosok masa lalu, pribadi dua puluh enam tahun Чªπğ lalu, lengkap dengan kekonyolan mereka masing-masing.
Sementara aku?
Aku tetaplah sosok Riska yang selalu hobi bergaya di depan camera dengan berbagai pose. Di saat foto bersama itu aku kembali melihat Zen demikian berbeda.
Zen..? Kenapa hatiku selalu ingin memperhatikan Zen.. ?
Ada keinginan memanggil Zen untuk berdiri di dekatku, tapi tak pernah bisa kuucapkan, karena teman-teman yang lain sudah terlebih dahulu menarikku untuk kembali berfoto bersama mereka. Bahkan ketika ada kesempatan untuk berdiri berdekatan pun, Zen seolah memberi dinding yang tinggi diantara kami, sehingga aku sungkan dan sulit untuk mencari jendela apalagi pintu buat bisa masuk dan berbincang dengannya.

Matahari mulai tinggi saat speedboat membelah lautan biru yang luas membentang mengitari pulau-pulau kecil yang hijau berpantai landai dengan pasir putih di sekelilingnya. Semua bersorak gembira berbagi kebahagiaan berbagai jok, bermacam teka-tekipun saling dilontarkan untuk memeriahkan suasana. Aku dan Reska asyik bernyanyi seperti kebiasaan kami, semua lagu-lagu kenangan yang sering kami nyanyikan waktu di sekolah dulu satu persatu meluncur dari bibirku dan Reska. Di beberapa bagian kami saling meningkahi, atau hanya sekedar memberi paduan suara dalam variasi nada dan improvisasi.

Namaku dan Reska memang mirip. Kami juga memiliki hobi yanga sama yakni sama-sama suka bernyanyi dan berpuisi, bahkan kami juga aktif dalam group teater yang sama di sekolah. Dulu, ketika ada perlombaan nyanyi di kotaku, selalu akulah Чªπğ berhasil merebut peringkat pertama, dan Reska menyusul di rangking ke dua. Sebaliknya bila ada lomba baca puisi maka Reskalah Чªπğ berada di peringkat pertama itu, sedangkan aku berada di bawahnya. Beda lainnya antara aku dan dia, Reska berkulit putih bersih dan Riska ( aku) berkulit sawo matang. Tapi untuk saat ini persamaan kami menurut rekan-rekan, adalah hanya kami berdualah yang masih sangat gampang dikenali oleh semuanya.

Di atas laut luas, di antara sorak-sorai, sekilas kulihat sosok Zen duduk diam di buritan, tak jauh di sebelah kananku sama seperti tadi. Ia terlihat asyik mendengarkan para wanita bernyanyi sementara rekan-rekan pria meningkahi dengan memukul benda apapun sebagai musik pengiringnya, beberapa ada yang bergoyang tanda mereka suka dan menikmati. Tak lama kemudian Zen kulihat berdiri dan pergi entah kemana. Penasaran aku menelusuri dengan mataku semua bagian speedboat mencari keberadaan lelaki itu. Tapi ia bagai hilang di telan samudera. Hampir setengah jam aku kehilangan sosok Zen, sebelum kemudian kutemukan keberadaannya. Lelaki itu ternyata duduk di sebelah kemudi dengan sebatang rokok terselip di bibirnya, tatapan Zen terlihat jauh ke samudra yang luas. Di atas speedboat itu, Zen bagiku adalah sosok sendiri yang tak pernah ingin membaurkan diri dengan sekitarnya.

Sudah menjelang magrib saat speedboat mulai mendekati pantai pulau penyu, dengan bantuan perahu kecil terbuat dari kayu Чªπğ diberi tudung terpal seadanya kami akhirnya bisa mencecahkan kaki di pulau berpasir putih setelah terlebih dahulu turun dari perahu kayu dan masih harus melintasi hamparan karang yang amat indah tapi terasa perih ketika terinjak. Dua pohon beringin besar yang rindang daunnya seolah penjaga pulau yang dengan ramah mengucapkan selamat datang. Di antara ke dua pohon berdaun rindang itu, dua rumah kayu bercat hijau berdiri dengan kokoh. Hunian itu terlihat cukup nyaman untuk tempat istirahat nanti malam. Tak jauh dari sana dua tenda besar berwarna hijau telah didirikan bagi yang hendak berjaga hingga pagi.
Aku merebahkan tubuh yang agak lelah di atas tikar biru, teman-teman Чªπğ sudah sampai duluan terlihat santai rebahan dengan kepala bersandar di ransel masing-masing. Beberapa teman lelakiku telah bersiap untuk mengambil udhu karena waktu sholat magrib sudah tiba. Semua sudah berjejer dalam saf yang rapi, hanya Zen yang tak terlihat. Ada dimana dia? Ketika malam menjelang pun ternyata sosok Zen tetap tidak ada.
Meskipun demikian acara malam harinya tetap berjalan tak kalah meriah. Di awali dengan membakar sate ayam dan dilanjutkan dengan acara bakar ikan di dua tungku besi besar, suasana benar-benar menyenangkan. Aku menyimpan rasa letih yang sedikit-demi sedikit mulai merambat dengan menyibukkan diri bercengkrama bersama rekan-rekan wanitaku.

Suami Reska ternyata seorang da’i kondang di Ibu kota, dia juga memiliki beberapa sekolah islami serta yayasan dhuafa. Aku asyik mendengarkan cerita pertemuannya dengan sang suami yang ternyata malah seorang mualaf, begitu juga dengan pengalaman hidup teman-temanku yang lain tak kalah asyik buat di simak.


Ketika kuceritakan kalau suamiku adalah saudara tua dari Sean teman kami, semua terkejut. Sayang Sean sendiri tak bisa hadir karena sedang bertugas di luar kota. Setelah sekian waktu berlalu, baru kuketahui kalau Zen ikut rombongan rekan-rekan yang kini memancing. Untuk mengimbangi dinginnya angin laut yang mulai merasuk ke tulang, kami membuat beberapa permainan. Sayang suasana meriah malam itu terpaksa dihentikan, hujan lebat tiba-tiba datang. Guyurannya diselingi sambaran kilat dan gelegar petir tapi anehnya aku tak merasa takut.

Cukup lama menunggu hingga hujan reda kembali, Ania yang duduk bersandar di sebelahku kian terlihat khawatir, berkali-kali ia melongokkan kepala ke luar tenda sambil tetap menenteng baju di tangannya.
“Anakku ikut romobongan mancing Ris. Ini sudah menjelang dini hari, tapi mereka belum kembali apalagi hujan begini lebat, aku kuatir sekali.” Ania segera ditenangkan istri rekanku yang menjadi tuan rumah.
“Mancingnya tidak terlalu jauh kok, lagian yang jadi pemandunya In Syaa Allah sudah berpengalaman, jadi berdoa saja tidak akan terjadi apa-apa”
“Tapi, dia belum makan.” Sela, Ania.
“Iya, semua yang pergi belum makan, kita sudah sediakan ikan panggang buat mereka.” Aku menepuk-nepuk pundak Ania mencoba mengalirkan perasaan nyaman padanya. Berbaring di samping Ania, walau kucoba memejamkan mata, tapi ternyata tetap tak bisa. Sama seperti sahabatku aku juga gelisah. Entah kenapa selalu saja pikiranku tak pernah lepas dari Zen yang terasa demikian aneh.
“Ania.” Aku membuka percakapan. Perempuan di sebelahku memalingkan wajahnya.
“Kok Zen berubah, ya.” Lanjutku.
“Berubah?” Ania memiringkan tubuh menatapku.
“Iya.” Aku menarik nafas sebelum melanjutkan.
“Aku merasa Zen terlalu diam, wajahnya pun terlihat tidak tampan lagi.”
“Maksudnya?” Ania bertanya.
“ Harusnya dengan jabatan yang begitu tinggi dia bisa lebih berkharisma, tidak seperti sekarang. Kok malah kelihatan kurang terurus begitu ya?”
“Hm". Aku terdiam ketika melihat Ania sama sekali tidak tertarik dengan pernyataanku. Aku kembali mencoba memejamkan mata, ketika hening menjeda sekian waktu lamanya.

Menjelang subuh ternyata mataku tetap tak bisa dipejamkan, walaupun berkali-kali aku berusaha mencoba memancing kantuk dengan cara menatap ujung hidung sambil berhitung mulai dari satu hingga seratus tapi tetap tak berhasil. Lamat-lamat kemudian kudengar suara ribut yang kian lama kian ramai, suara percakapan dan teriakan saling meningkahi. Aku mencoba bangkit, dan kulihat Ania pun melakukan hal yang sama. Akhirnya kami putuskan bergabung saja dengan yang lain.
Ternyata keramaian itu berasal dari rekan-rekanku, mereka sedang menunggu datangnya penyu yang hendak bertelur di pinggir pantai.
Untuk pertama kalinya aku menyaksikaan salah satu dari sekian peristiwa alam yang sangat menarik, se ekor penyu merayap ke daratan mencari pasir lembut untuk menetas. Induk penyu bertubuh besar itu, menetaskan telur-telurnya di lubang pasir yang hangat. Aku terharu menyaksikan induk penyu dengan bobot delapan puluh kilogram itu ternyata meneteskan air mata saat ia kemudian harus meninggalkan telur-telur yang baru ditetasnya. Dengan cerdik sang ibu penyu mencoba menipu manusia, ia membuat lubang lain setelah sebelumnya menutup padat lubang tempat tidur cikal bakal anak-anaknya. Lalu dengan langkah perlahan ia kembali ke laut luas untuk melanjutkan kehidupan.

Banyak keinginan dalam hati yang tidak sampai, banyak rasa tak nyaman menyergap pikiran. Dari awal aku memang sudah menyimpan perasaan aneh yang aku sendiri tak tahu apa artinya. Yang jelas dalam suasana gembira berjumpa teman lama aku tetap saja bergumul dengan rasa tak nyaman yang tak jelas asal usulnya. Berdiri tegak aku di pinggir pantai, beberapa saat, aku hanya berdiri saja.

Ombak ketika itu surut sangat jauh.Di atas kepala awan pekat bergumpal-gumpal. Sebentar lagi pagi, tapi rembuan yang kini berada tepat di atas kepalaku tetap tak utuh nampaknya, rembulan hanya bersembunyi di balik awan. Angin meriapkan helai rambutku dari balik kerudung lebar yang menutupi sekedarnya. Sudah tidak ada lagi keramaian, semua berlindung di dalam tenda melanjutkan obrolan sampai pagi menjelang.

Rasa letih mulai menggerogoti tubuhku dengan sempurna, meskipun begitu besok pagi aku tetap memutuskan kembali ke kotaku, karena tugas di kantor memang tidak mungkin ditinggalkan. Semua protes dengan keputusaanku, karena malam minggu ini justru puncak acara yang sebenarnya dan aku di dapuk untuk ikut meramaikan. Tapi sabtu siang ini aku justru harus kembali ke kotaku untuk seterusnya bersama rombongan kantor melakukan perjalanan dinas ke kota lain.
Sebenarnya alangkah inginnya aku tetap bersama teman-temanku hingga akhir acara. Tapi tanggung jawab dan tugas yang telah disepakati sebelumnya, juga sudah menunggu. Setelah sarapan, semua berkumpul. Aku ikut duduk di atas pasir gembur, letih juga ternyata mengelilingi pulau penyu berburu objek pemotretan sambil memungut kerang-kerang dengan bentuk yang unik. Beberapa di antaranya bahkan sangat istimewa tekstur maupun warnanya.
Lumayan oleh-oleh buat anakku yang kecil, bathinku.

Ketika sibuk mengupas buah naga Чªπğ kemaren di petik dari kebun milik Reska, aku kembali melihat Zen. Kali ini Zen mengenakan Celana santai selutut dengan baju merah garis hitam, tapi mengapa semua yang bersentuhan dengan Zen terlihat lusuh di mataku? Seharusnya Zen lebih dari itu, seperti layaknya lelaki yang mapan dalam usia mau pun karier, tapi itu tak terlihat pada sosok Zen.
Aku memotongi empat buah Naga berwarna merah sempurna, kemudian membagikannya kepada rekan-rekanku.Kali ini kulihat Zen berdiri tidak begitu jauh di sebelah kiriku, ia terlihat tetap kukuh dalam diamnya. Akulah yang akhirnya memutuskan untuk bicara.
“Mau?” Tanyaku padanya.
“Tidak.” Aku melongo, jawaban singkat Zen, mematikan kata, sehingga aku menyibukkan diri kembali dengan memotong beberapa buah naga yang langsung saja habis disikat oleh teman-teman yang lain.
“Buah ini bukan buat dimakan.” Tiba-tiba Zen bicara, aku tidak tahu dia bicara pada siapa.
“Buah ini banyak digunakan sebagai bahan kosmetik. Lipstik yang anda-anda pakai, asalnya. Ya, dari buah naga ini.” Ia menjelaskan. Walau kata-kata itu tak bertujuan aku menjawab juga.
“Oh, gitu ya. Tapi rasanya lumayan enak lho.” Kataku. “Mau?” Aku kembali menawari, sambil menyodorkan sepotong buah naga ranum kepadanya.
“Gimana rasanya?” Zen bertanya. Suara Zen terdengar garing di telinga. Belum sempat menjawab kudengar Ia bertanya kembali dengan nada yang lebih keras
“Gimana rasanya…?”
“Manis.” Jawabku kecut seperti murid habis dimarahi guru. Dia menatapku agak lama sekarang.
“Coba aja.” Aku melanjutkan. Zen mendekat mengambil buah naga di tanganku dan mengunyahnya dengan nikmat, menurutku bahkan terlalu nikmat cara Zen memakannya.
“Enak, kan?” Pertanyaanku sama-sekali tak berjawab.

Dari pulau penyu, perjalanan dilanjutkan ke pulau cubadak, di sana sarana bermainnya lebih komplit. Tersedia permainan Jet-ski dan Banana-jet. Aku berencana tidak akan ikut ke Pulau itu, setelah kapal bersandar aku tidak turun ke pantai melainkan tetap di kapal menuju dermaga. Gema protes terdengar dimana-mana, mendengar kata-kataku. Sebelum turun dari kapal, Edris Чªπğ bertindak sebagai tuan rumah mengumumkan bahwa Reuni berikutnya akan di adakan di kota Pekanbaru. Tapi beberapa waktu kemudian meralatnya kembali.
“Ada Perubahan rekan-rekan. Pertemuan alumni kita berikutnya diadakan di kota Bengkulu awal bulan Juli mendatang.” Rekan-rekanku menyambut dengan suka cita, apalagi banyak yang belum pernah berwisata ke kota itu.
“Zen sudah siap menyambut kita awal bulan Juli, setelah liburan panjang sekolah.” Aku tersentak, mencoba mengulangi apa yang kudengar.
Juli…? Awal juli..?
Bukankah awal juli, tepatnya tanggal satu juli adalah hari ulang tahunku? Tapi entah kenapa aku sudah yakin tidak akan bisa hadir. Aku tidak akan ikut reuni di bulan Juli itu, ada perasaan tidak mungkin entah datang dari mana tapi berkali-kali bathinku mengatakannya.
“Bulan Juli itu ulang tahunku lho, Den.” Aku berbisik pada sahabatku Deni, yang kebetulan berdiri di sampingku.
“Oh, ya?” Deni menatapku dan aku mengedipkan sebelah mata, untuk meyakinkan kata-kataku baruan.
"Bertepatan banget." Deni menyikut pinggangku
"Iya." Kataku sambil mengangguk.

Ketika kapal hendak menepi, aku berdiri lebih dahulu dan menyalami teman-teman minta izin untuk pulang lebih awal. Sepintas kudengar mereka mengomel protes dengan keputusanku, tapi aku tidak terlalu menanggapi karena sesungguhnya aku pun ingin tetap bergabung. Aku juga menyalami Zen, sambil lewat sekilas kutepuk pundaknya.
“Yuk, Zen. Sampai ketemu di Bengkulu”. Kataku berbasa-bas. Aku tak tahu Zen menjawab atau tidak, cuma ketika mengulurkan tangan pada Edris, rekanku itu menolak dengan tegas uluran tanganku.
“Tidak ada salam perpisahan, kita kumpul dulu di pulau untuk makan siang, baru setelah itu kita pikirkan langkah berikutnya.” Aku tersenyum kecut, dan menarik tanganku kembali.
“Ya sudah kalau begitu, kita makan siang dulu Tis, enggak enak juga dengan Edris.” Tis yang memang berencana akan ikut pulang bersama denganku siang ini, mengangguk setuju. Ada tiga Ŏ®ªńG yang hendak kembali lebih awal siang ini. Aku, Darwis dan Tisna.

Pasir gembur membenamkan kakiku hingga betis. Walaupun ukuran pulaunya lebih kecil, namun fasilitas pulau ini lebih lengkap. Beberapa warung kecil berdiri di atasnya, pelampung dan peralatan renang lainnya tergelatak di mana-mana. Di laut yang dangkal jet-ski juga terlihat berseliweran, suasana itu membuat pulau terlihat lebih hidup dari Pulau Penyu tempat kami menginap semalam.

Berdiri aku memandang ke tengah lautan lepas. Agak ke tengah, Kapal yang tadi kutumpangi, masih sibuk memindahkan barang-barang dan perlengkapan ke speedboat, untuk seterusnya dibawa ke pulau, ketika aku memperhatikan kegiatan itulah dari kejauhan kulihat seseorang melompat dari kapal dan kemudian berenang menuju pantai. Ada-ada saja, bathinku.


Kemaren juga ada teman yang melompat dari speedboat dan berenang ke pantai, sekarang tepat jam dua belas siang di panas matahari yang terik pula, seorang rekanku kembali nekat berenang. Aku pandangi saja hingga dia menepi. Ketika sosok itu semakin dekat segera kusadari kalau itu Zen, tubuh basahnya melintasiku menuju ke arah warung tempat teman-teman berkumpul.
Di suatu kesempatan Zen yang masih kuyub mendatangiku, ia berdiri tepat di sampingku dan aku menyapanya asal saja.
“Kenapa seperti gelagapan saat berenang tadi, bukannya kamu pinter renang?” Aku hanya melirik Zen sekilas, selebihnya pandangan kutujukan ke speedboat yang masih kelihatan sibuk bongkar muat. Dulu waktu masih kanak-kanak aku dan Zen sering sekali saling tantang untuk pacu berenang di sungai Чªπğ berair keruh, dan pertandingan itu selalu dimenangkan oleh Zen
“Kelelep, dan kena cipratan jet-ski, sehingga tiga kali tertelan air” Jawabnya.
“O….” Aku mencoba memahami.
“Seharusnya kalau ada yang berenang, nggak boleh ada jetski yang melintas, bisa membahayakan.” Zen melanjutkan kata-katanya,
“Begitu ya?” Tanyaku.
“Iya.” Zen menjawab singkat.
berbicara dengan Zen terus-terang sangat tidak mengenakkan, suasananya selalu terasa kaku. Aku kehilangan semangat melanjutkan pembicaraan. Kulayangkan mataku melihat ke arah lainnya, sekedar meredakan rasa tak enak di hatiku, namun ketika aku kembali menoleh, Zen ternyata sudah tak ada di tempatnya tadi berdiri.

"Benar-benar terlalu," bisik hatiku.
Sesaat kemudian aku kembali sibuk mengabadikan beberapa objek yang terlihat bagus. ketika melihat Dani mendekatiku, aku mengajaknya foto bareng.
“Kita foto bersama temen masa kecil yuk, Dan.” Kataku
“ Ayo, mana Zen?” Dani mengedarkan pandangan, aku juga. Di kejauhan kelihatan Zen berdiri sendiri dengan tubuh masih basah kubub, aku nyeletuk sambil mengernyitkan dahi melihat Zen masih bertelanjang dada.
“Tak usah bareng Zen lagi, Dan. Masak kondisi kayak gitu mau difoto, bisa-bisa suamiku salah pengertian nantinya.” Dani tertawa, begitu juga dengan aku, Akhirnya kami memutuskan cuma foto berdua saja.

Dani, aku dan Zen dibesarkan di Kompleks yang sama, kami sudah berteman sejak dari sekolah dasar, hingga SMA dan selalu di sekolah yang sama pula. Zen adalah murid yang pintar, suatu kali dia pernah protes karena dianggap salah oleh guru matematika kami. Zen dengan berani mendatangi sang guru dan menjelaskan apa yang dibuatnya sama sekali tidak salah Cuma rumusnya saja yang beda, tapi hasil tetap sama dan itu tidak salah. Dengan semangat dia menjelaskan logikanya kepada Guru Matematika kami. Akhirnya nilai Zen dirubah menjadi 10 dari nilai 9 pada awalnya. Saat itu Zen terlihat luar biasa di mataku.
Dengan sedikit tipu muslihat teman-teman, akhirnya mereka berhasil menggiringku ke laut, untuk ikut berselancar dengan Banana-jet, dan diceburkan ke air yang terasa asin ketika tertelan. Semua tertawa gembira melihat aku keluar dari air dengan sekujur tubuh basah kuyub. Aku mengalah dan mengundurkan waktu kepulanganku hingga nanti malam. Tak ada harapan untuk bisa melepaskan diri lagi. Aku menelpon rekan kantor, menyatakan tidak mungkin kembali hari ini. Bajuku basah kuyup begitu juga kerudung yang kupakai.
“Ini baru Riska yang dulu, Чªπğ selalu asyik di ajak lomba panco. Kalau yang kemaren? Oh, No..!” Mordan mengancungkan dua jempolnya tinggi-tinggi disambut tawa teman-teman yang ada diwarung. Aku Cuma mencibir.
“Mantaaaap…!” Herry pun jejingkrakan melihat ekspresiku.
"Mau pulang juga ya, bund?"Tanya Rafiq sambil cengengesan.
"Mari silahkan." Lanjutnya. Aku menekuk muka pura-pura marah.
“Ayo, silahkan dijemur bajunya biar kering kalau mau berangkat juga.” Atika ikut-ikutan berseloroh sambil meniup gorengan yang masih mengepulkan asap di tangannya.
“Mari bunda sayang, silahkan cari angin dulu sambil menunggu baju kering.“ Ardan tak mau kalah.
Beragam celetukan teman-teman, diiringi cekikikkan yang lainnya kutanggapi dengan senyum masam. Bahkan ada yang berkata seraya berlagak memberi hormat merunduk dan mempersilahkanku untuk naik ke kapal yang mulai bergerak hendak menuju ke dermaga. Aku kembali membalas dengan senyum yang sengaja dibikin lebih kecut.
Keluar dari warung tak sengaja pandanganku terlayangkan kembali ke pojok dimana Zen tadi berdiri, dan aku memalingkan sekali lagi wajahku ke arah Zen, melihat ada yang ganjil dengan lelaki itu.

Ada apa dengan Zen..?
Mengapa ia seperti terkulai kehilangan daya begitu. Rasa kuatir menyeruak dalam hatiku, tapi berusaha kutepis. Aku mencoba ngobrol dengan beberapa teman hanya sesaat, setelah itu kembali pandanganku tertuju pada sosok Zen yang berada cukup jauh dari tempatku berdiri, dan kali ini aku tak kuat lagi menahan langkah untuk tidak menghampiri. Aku yakin ada yang tak beres.
Ketika sampai Zen terlihat sudah tak sadarkan diri, matanya terkatup. Seorang teman berusaha memberi tekanan pada dada Zen. Jantungku berdetak cepat, apa yang terjadi padamu Zen, Sahabat kecilku. Aku mencoba memberi bantuan dengan memijat kakinya yang dingin. Tapi perasaanku sangat tak enak, aku seolah merasa akan kehilangan dirinya. Berkali-kali diberi nafas bantuan Zen tidak membaik. Aku beruraian air mata mencoba memberi kekuatan pada Zen.
“Jangan pergi temanku, jangan pergi. Ingat anak-anak, Zen. Ingat keluargamu, mereka masih sangat membutuhkanmu.” Bathinku. Air mataku berlelehan. Ketika kondisi Zen tak kunjung membaik, aku mulai panik dan berteriak memanggil teman-teman yang masih ngobrol di warung, sambil hatiku terus berzikir.

“Ya Allah, selamatkan sahabatku.”
Tapi bathinku mengatakan lain, aku seperti telah kehilangan temanku. Tubuh Zen membiru. Dari mulutnya keluar air bercampur buah naga yang tadi pagi dimakan Zen sebelum berangkat. Air keluar ketika dada Zen ditekan berkali-kali, kembali dari mulutnya menyembur Air yang bahkan terciprat membasahi kerudungku. semua bilang Zen sudah bisa bernafas sendiri, tapi aku sangsi. Berkali-kali kugosok tangan dan kaki Zen dengan menggunakan bantuan pasir supaya bisa merangsang syaraf perasanya kembali. Namun kala kupegang pergelangan tangan Zen Чªπğ dingin, aku menggigil dengan hati kecut.
Ya, Allah...! Aku tidak menemukan detaknya.
“Panggil kapal, bawa Zen ke rumah sakit, ini sudah tidak bisa dengan pertolongan pertama lagi.” Kataku setengah meraung.
“Ayo, cepat…!” aku berteriak ketika teman-teman yang berkerumun masih terlihat bengong. Akhirnya Zen digotong dan dibawa dengan speedboat menuju rumah sakit. Kami semua berdoa bersama mengharapkan pertolongan Tuhan, untuk kesembuhan Zen. Tak berapa lama Meri istri Erdis menerima kabar dari rumah sakit, aku diam berusaha mendengarkan, dan ketika Meri mengatupkan mata sembari mengigit bibirnya, Aku tidak bisa menahan gigil di hatiku, airmataku berlelehan. Aku benar-benar telah kehilangan Zen, sahabat masa kecilku yang dua hari ini terlihat begitu aneh sikapnya, setelah dua puluh enam tahun kami tidak bertemu.

Selamat Jalan sahabatku, saudaraku Zen. Pergilah dengan tenang.
Inikah maksud di balik semua sikap teman-teman yang berusaha menahan langkahku untuk tidak pergi. Alam berkehendak agar aku menyaksikan dan ikut mengantar kepergianmu Zen? Samar-samar ingatanku kembali ke masa dua puluh enam tahun yang lalu, ketika Zen pertama kali menyatakan cintanya padaku, di tepi pantai juga di antara suara deburan ombak yang saling berkejaran.
“Jangan katakan aku gila Ris, karena aku mencintaimu.” Ia berkata perlahan dengan senyuman samar terkulum dibibirnya.
Di pantai pula akhirnya engkau ingin aku melepaskan pergimu? Berkelebat kembali ingatanku ketika mengantar kepergian Zen saat dia lulus sebagai salah seorang mahasiswa di ITB. Teluk Bayur ramai ketika itu, siang Чªπğ terik dan hiruk pikuk aktifitas pelabuhan, ditingkahi bunyi mesin kapal yang sekali-kali meniupkan peluit panjangnya, pertanda akan segera diberangkatkan.
“Ris.” Ando menarik tanganku agak menjauh dari kerumunan rekan-rekan yang ikut mengantar keberangkatan Zen.
“Kamu tahu apa yang Zen bilang barusan padaku?” Aku menggeleng dan Ando tersenyum nakal
“Dia bilang, Aku titipkan Riska, wanita yang paling kusayangi di dunia ini padamu, Ando”. Mataku membelalak, sembari meletakkan jemari di mulut. Aku takut dan kuatir apa yang dikatakan Ando didengar juga oleh sahabatku Erlin. Karena aku tahu Erlin sangat mencintai Zen, dan Erlin adalah sahabatku. Aku sayang padanya, buat dia aku ikhlas menghilangkan seorang Zen dari hatiku.
Di atas buritan kapal Zen terlihat kecil, tapi lambaian tangannya masih nampak jelas, dengan bibir terukir senyuman. Senyum khas Zen, dulu aku pernah sangat suka dengan senyum itu, bahkan cukup lama senyuman khas itu hadir menghiasi mimpi-mimpi malamku.

Pergilah Zen….pergilah dengan tenang menuju padaNya… .

Tamat
Pasir Parupuk , 25-04-2011


Minggu, 02 Maret 2014

BERSYUKUR TERHADAP APA YANG DIMILIKI

True Story yang menyentuh...

”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Itulah Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan,
Semoga peristiwa ini bisa membuat kita belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki,sebab :
Apa yang kita harapkan belum tentu kita dapatkan dan
apa yang kita dapatkan belum tentu itu yang kita harapkan ,
Tapi Percayalah Tuhan pasti memberikan Kita yang terbaik
(untuk/menurut kita dan untuk/menurut orang-orang yg kita cintai)

Bagikan Juga Artikel ini ke teman Anda ^_^